Jumat, 18 September 2015

Penggunaan Kata Jangan



by google
Beberapa waktu lalu saya sering sekali mendapat kiriman image tentang Alternatif pengganti kata "Jangan" kepada anak-anak. Tak sedikit pula yang share tentang artikel tersebut di media sosial saya baca di Facebook. Sebagai ibu, saya sih mangut-mangut ya saat baca artikel tersebut entah bisa mempraktekkan atau tidak. Dalam bayangan saya betapa indahnya tanpa ada nada marah atau kesal anak bisa diarahkan dengan kata-kata positif seperti itu. Tapi apakah semudah itu??? yaaa dimana pun teori akan lebih mudah daripada praktek whahhaaa. Apalagi saya lebih setuju dengan teori parenting bahwa teori A belum tentu cocok dengan anak A, dan yang paling paham tentang mana yang baik untuk anak tentunya orang tua yaa.

Balik lagi dengan alternatif kata jangan, saya juga menemukan artikel tandingan yaitu yang kesannya meyalahkan artikel penggunaan alternatif kata jangan tersebut. Sampai membawa hadis dan beberapa ayat suci untuk menguatkan bagaimana pentingnya penggunaan kata jangan tersebut. Seperti biasa, parenting pun menjadi perdebatan yang panjang dan tak berkesudahan mirip lah dengan melahirkan normal vs SC, ASI vs Sufor dan masih banyak lagi. Kalau saya pribadi lebih suka membaca banyak artikel-artikel tersebut dan menggambil mana yang sekiranya cocok diterapkan pada Kynan dan sesuai dengan apa yang keluarga kita yakini. Karena ya parenting atau cara asuh pada anak sangatlah berbeda satu sama lain, yang kembar saja pasti perlu penanganan beda, apalagi yang beda bapak ibu kan ya. Kalau kata mas Dani, lain ladang lain belalang sayaa setuju banget dengan istilah tersebut hihihi.

Sebagai menikmat artikel parenting, memang saya sering dibuat bingung dengan hal-hal seperti diatas, perseteruan artikel salah satunya. Awalnya saya mangut-mangut pada artikel pertama, tapi artikel yang kedua juga ada benarnya. 

Kemarin berkesempatan hadir pada Tahsin di sekolahnya Kynan. Saya datang telat tapi alhamdulillah masih kebagian sesi ceramahnya, dipandu Ustazah Ulya, beliau memaparkan tentang beberapa hal yang perlu ditanamkan pada anak, tentunya selain pendidikan formal yaa, 
1. Pendidikan Aqidah tentang Tuhannya, anak harus sudah diajarkan berkeyakinan dan Tauhid bisa dengan bercerita, membaca buku, mengenalkan sang pencipta
2. Pendidikan dalam ibadah, tatacara dan aturan dalam peribadah bisa dimulai dari mengikuti gerakan sholat ayah bunda, mengajak sholat ke masjid, membiasakan membaca doa dalam setiap kegiatan 
3. Pendidikan Akhlak atau moral karakter. yang perlu berhati-hati adalah disini, dimana guru dan orang tua adalah rolle model bagi anaknya. Mereka dalam usia yang sangat gampang menyerap apapun akan selalu menjadikan orang-orang terdekat yang anak hormati menjadi panutan.

Saya berkesempatan menanyakan pandangan beliau tentang penggunaan Alternatif kata Jangan tersebut, penjelasan beliau menurut saya lebih bisa diterima tanda menyakiti banyak pihak, pihak pro dan kontra penggunaan alternatif kata jangan. Kurang lebihnya seperti ini :

Menurut beliau ada 2 aspek yang perlu diperhatikan, pertama aspek psikologi anak, saat dengan gembira anak diajarkan hal-hal yang baik pasti yang tertanam dalam alam bawah sadarnya adalah hal-hal yang menyenangkan sehingga akan cepat sekali terserap, sebaliknya apabila dengan tekanan, omelan, melotot dan kata-kata yang kurang baik, mungkin anak tersebut memang akan berhenti melakukan hal yang membuat orang tua marah, namun yang teringat pada benak mereka adalah marah-marahnya tadi bukan tujuan larangannya dan akibat seringnya berkata jangan, membuat anak berfikir "Kata Jangan" itu suatu yang biasa saja. Lari-lari di halaman jangan, naik kursi jangan, main air jangan, merantakin mainan jangan, menjadikan Jangan adalah aturan yang biasa saja.

Aspek kedua berhubungan dengan tingkat bahaya tindakan anak. Berhubungan dengan aspek pertama tadi, ketika anak tidak terbiasa mendengar kata jangan, anak anak menjadikan kata Jangan tersebut sebagai alarm yang sangat keras di dalam dirinya. Sehingga anak bisa membedakan mana yang harus benar-benar dihindari. Contohnya tentang ke-Tuhanan yaa, "Janganlah kau mempersekutukan Allah".. kalimat tersebut benar-benar memang wajib hukumnya untuk kita yakin kan??, nah kalau sampai anak-anak beranggapan Jangan tersebut sama dengan jangan pada larangan-larangan yang biasa saja bisa gawat dong yaa, semoga kita semua dijauhkan hal semacam ini yaaa amin. Atau pada tindakan-tindakan berbahaya yang lainnya.

Jadi sebenarnya penggunakan kata Jangan sebaiknya digunakan untuk membedakan tingkat urgensi suatu tindakan anak. Kalau hal-hal yang ringan namun memang perlu peringatan, bisa diperingatkan dengan menyenangkan dan bisa menggunakan alternatif kata jangan tersebut, tapi saat menyangkut keyakinan, bahaya dan keselamatan sudah pasti kata Jangan memang harus dipakai. Satu hal lagi, larangan pada anak, mau itu menggunakan alternatif kata jangan atau tidak sebaiknya diikuti dengan penjelasan agar anak tidak bingung dengan larangan-larangan yang ayah bunda berikan. 

Semoga bermanfaat ya, saya juga masih banyak belajar  :)
Selamat hari Jumat temans,, Semoga barokah dan selamat menunggu weekends hihihii

17 komentar:

  1. au save ah tabelnya, makasih ya mbak

    BalasHapus
  2. makasih mbak sharingnya,ngilmu dulu baru nanti dipraktekin hehe...bagus ya,ada acara tahsin juga disekolah anak untuk wali murid..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihiii iya mbaa Zwan sama-sama,, amin,, segera dipraktekin yaa :D

      Hapus
  3. setju banget mak...harus diliat tingkat urgensinya ya kalo mau pakai kata jangan...
    aku sih udah lama baca tentang alternatif kata selain jangan..kadang suka lupa pake kata2 itu, kadang inget..ahh...masih harus banyak belajar nih aku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaa mak, aku juga suka sih baca ini di medsos tapi ya gitu prakteknya entahlah entahlah hihihii.. cuma aku baru dengar yang jelasinnya tentang tingkat urgensinya :)

      Hapus
  4. Kadang spontan banget ngomong Jangan kpd anak2. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Idah... peer.... hiks

      Hapus
  5. Jadi penggunaan kata "jangan" itu sebaiknya dipakai tergantung level urgent nya yah.
    Mungkin kalau perkara kecil bisa memakai kalimat alternatif ky di tabel atas.

    Dan kalau perkara berat misal masalah halal haram itu beda sekali. Tidak ada kalimat alternatifnya, itu sudah pasti haram itu dilarang. Nah kata jangan memang layaknya ada disitu untuk menunjukan fungsinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget.. sebaiknya dilihat tingkat urgensinya sih, tapi ya gitu emak-emak suka lupaaa kalau prakteknya :p

      Hapus
  6. Setuju mba :)
    Ada jg yg blg, klo di al-quran jg ada kata 'jangan'...
    Tp stelah dihitung, lbh bnyk kalimat2 anjuran drpd kata 'jangan'... Contohnya sholatlah, bukan jangan tinggalkan sholat... Berbuat baiklah kpd orang tua, bukan jgn durhaka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya ya mba?? aku baru tahu,, memang sebaiknya gitu yaa, mengedepankan berfikir positif dulu sih daripada langsung larangan yang artinya kita sudah menduga itu buruk kan

      Hapus
  7. Saya setuju mbak. Kata "Jangan" tetap diperlukan, tetapi dalam konteks tertentu

    BalasHapus